Politik Adu Domba dan Ancaman Disintegrasi Sosial

Politik adu domba punya efek yang luar biasa. Selain menggusur percakapan politik rasional di ruang publik, tetapi juga mempertebal disintegrasi sosial. (Andy Tandang - ist)

MATA-MATA, mataleso.com - Situasi politik jelang pilpres semakin memanas. Narasi politik yang diedarkan ke ruang publik pun beragam. Setidaknya, ada dua sentrum gerakan yang cukup populer hari ini, yakni gerakan #2019GantiPresiden dan gerakan #2019TetapJokowi. 
Politik Adu Domba dan Ancaman Disintegrasi Sosial
Politik adu domba punya efek yang luar biasa. Selain menggusur percakapan politik rasional di ruang publik, tetapi juga mempertebal disintegrasi sosial.
Dalam konteks demokrasi, gerakan semacam ini dimungkinkan meskipun telah memantik beragam perdebatan. Penolakan terhadap gerakan #2019GantiPresiden, misalnya. Gerakan ini dinilai membahayakan karena karena disenponsori kekuatan kelompok radikal yang anti Pancasila.

Bahkan, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) secara tegas menyatakan acara Deklarasi #2019GantiPresiden dapat berpotensi menimbulkan gangguan ketertiban masyarakat serta mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Terlepas dari perdebatan tersebut, kita tiba pada sebuah kegelisahan kolektif akan potensi perpecahan di tubuh sesama anak bangsa. Secara samar-samar kita bisa menangkap fakta pembelahan politik ke dalam dua poros yang pada akhirnya memicu sejumlah kegaduhan.

Kegaduhan yang muncul sebagai efek benturan dua kekuatan itu tidak pernah terlepas dari grand design yang diciptakan oleh kekuatan tertentu. Kekuatan tersebut berperan sebagai perancang sekaligus pengendali kegaduhan.

Tentu, ada hal yang perlu diselidiki lebih jauh di balik fenomena tersebut. Politik adu domba. Dua kekuatan masa diadu demi sebuah kepentingan politik. Politik adu domba punya efek yang luar biasa. Selain menggusur percakapan politik rasional di ruang publik, tetapi juga mempertebal disintegrasi sosial.

Politik Adu Domba

Politik adu domba (devide et impera) adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan. 

Dalam konteks lain, politik adu domba mengerucut pada upaya mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat.

Awalnya, devide et impera merupakan strategi perang yang diterapkan oleh bangsa-bangsa kolonialis mulai pada abad 15 (Spanyol, Portugis, Belanda, Inggris, Perancis). Bangsa-bangsa tersebut melakukan ekspansi dan penaklukan untuk mencari sumber-sumber kekayaan alam, terutama di wilayah tropis. 

Dalam perjalanannya, metode penaklukan bangsa-bangsa kolonialis itu mengalami perkembangan, sehingga devide et impera tidak lagi sekadar sebagai strategi perang namun lebih menjadi strategi politik. Sebagai sebuah strategi politik, devide et impera memiliki syarat situasional dan prinsip operasional yang dapat diamati.

Machiavelli  dalam Art of War menggambarkan strategi ini sebagai strategi yang dijalankan oleh pemimpin perang untuk melemahkan konsentrasi perlawanan musuh. Machiavelli menulis:

“A Captain ought, among all the other actions of his, endeavor with every art to divide the forces of the enemy, either by making him suspicious of his men in whom he trusted, or by giving him cause that he has to separate his forces, and, because of this, become weaker.” (Machiavelli, [1521] 2003)

Tesis Machiavelli hendak menunjukkan bahwa strategi ini berkaitan erat dengan dominasi politik. Dominasi politik digunakan untuk merebut kekuasaan sekaligus mempertahankan kekuasaan dengan memecah perlawanan kelompok besar kedalam kelompok-kelompok kecil sehingga mudah ditaklukkan. 

Artinya, pengguna strategi ini harus mampu membelah sekaligus mempertahankan pembelahannya atau bahkan memperluas pembelahan dalam komunitas-komunitas lawan.

Secara historis, devide et impera sebagai sebuah strategi politik, memiliki basis material yang sama yaitu kekuasaan sebagai suprastruktur strategi dan kepemilikan sumber daya alam sebagai infrastruktur yang membentuk motif kekuasaan. Namun secara dialektis, strategi ini beroperasi dengan membentuk diskriminasi dan mempertentangkan identitas kelompok. 

Strategi devide et impera tidak menciptakan pemilahan baru melainkan mengeksploitasi perbedaan dalam identitas kelompok sehingga kelompok-kelompok tersebut membedakan dirinya dengan yang lain. Eksploitasi perbedaan identitas kelompok dilakukan dengan mempertentangkan nilai yang ada di dalam suatu kelompok dengan kelompok lainnya.

Di abad ke-17, politik adu domba menyasar Indonesia. Sama seperti logika kolonialis di abad 15, rezim kolonial Belanda saat itu mengusung narasi 'penaklukan nusantara' sebagai senjata ampuh yang mematikan. Mereka mengotak-atik keutuhan dan persatuan bangsa dengan mempolitisasi kekuatan-kekuatan yang sedang bertikai.

Salah satu contoh yang bisa diangkat adalah usaha kolonial menduduki kerajaan Banten. Mereka memanfaatkan konflik internal kerajaan Banten dengan memainkan politik adu domba. Saat itu, antara Sultan Haji, Putra Mahkota Banten, sedang berselisih dengan Sultan Ageng Tirtayasa soal pergantian kekuasaan kerajaan. 

Belanda memberikan bantuan kepada Sultan Haji untuk melengserkan Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah berhasil melengserkan Sultan Ageng Tirtayasa, Belanda meminta imbalan berupa perjanjian,.

Perjanjian itu menyatakan bahwa Banten merupakan wilayah yang berada di bawah kekuasaan Belanda. Di sisi lain, Banten juga harus memutuskan hubungan dengan bangsa-bangsa lain dan memberikan hak monopoli kepada Belanda untuk berdagang di Banten. 

Kita bisa melihat bahwa politik adu domba digulirkan di tengah gesekan dua kekuatan yang berlawanan sembari berkompromi untuk sebuah kepentingan pragmatis. 

Hingga saat ini, warisan kolonialisme itu masih membekas. Dalam konteks dua sentrum gerakan #2019GantiPresiden dan #2019TetapJokowi, gesekan dua kubu ini dipolitisasi oleh kekuatan-kekuatan yang mempunyai kepentingan secara politik. 

Ada menu politik yang disuguhkan di sana. Namun, di balik itu ada kompromi yang menyasar kekuatan masing-masing pendukung untuk memenangkan sebuah pertarungan. Strategi yang dimainkan bisa dalam bentuk diskriminasi atau mempertentangkan identitas kedua kubu. 

Misalnya, kubu yang pro gerakan #2019GantiPresiden distigma sebagai provokator yang memecah belah keutuhan bangsa, sedangkan yang pro #2019TetapJokowi merupakan gerombolan penyelamat yang setia menjaga keutuhan bangsa.

Pembelahan semacam ini, selain mempertegas identitas masing-masing kelompok, tetapi juga memicu terjadinya konflik. Tepat pada titik inilah, efek politik adu domba akan terasa.  Jika situasi ini terus dibiarkan, potensi perpecahan sosial akan semakin melebar.

Ancaman Disintegrasi Sosial

Gerald Frost dalam Loyalty Misplaced: Misdirected Virtue and Social Disintegration, mendefenisikan disintegrasi sosial sebagai sebuah proses terpecahnya suatu kelompok sosial menjadi beberapa unit sosial yang terpisah satu sama lain. Peroses ini terjadi akibat hilangnya ikatan kolektif yang mempersatukan setiap anggota kelompok. 

Dalam studi kajian Ketahanan Nasional, disintegrasi sosial menjadi salah satu topik kajian yang menarik, khususnya dalam perspektif (gatra) politik. Dalam konteks ini, potensi ancaman disintegrasi sosial dibaca dalam kerangka permainan kepentingan yang melibatkan aktor-aktor politik. 

Logika aktor politik memposisikan rakyat sebagai obyek permainan, yang akal sehatnya bisa diobrak-abrik. Tujuannya adalah menggaet kekuasaan dengan menyodorkan keganasan kelompok. Para aktor politik ini mendesain sebuah peristiwa politik untuk mengacaukan kesamaan persepsi dan pandangan pada aras masyarakat kelas bawah. Mereka tidak ingin membiarkan soliditas tercipta di antara masyarakat. 

Sama seperti gaya kolonialisme, kekuatan dan persatuan yang mengakar akan dicabut dengan membenturkan sesama warga bangsa.

Disintegrasi sosial akan semakin menguat ketika skenario yang dimainkan para aktor berubah wujud menjadi konflik sosial. Massa mulai mengamuk. Bendera sektarianisme perlahan dikibarkan. Spirit kebangsaan yang telah dihidupi sejak lama mulai roboh. 

Pada akhirnya, warga bangsa kehilangan kendali. Perpecahan tak bisa lagi dibendung. Masing-masing kelompok dan komunitas menumpahkan kegeramannya.

Biasanya, para desainer politik selalu bermain di belakang layar. Mereka tak peduli seberapa kencang gesekan yang terjadi. Sebab, itulah target utama untuk membekukan kekuatan-kekuatan besar dengan daya pengaruh yang kuat. 

Ian Bremer dalam The J Curve, pernah beranggapan bahwa masalah disintegrasi sosial memiliki kemungkinan kecil untuk bertumbuh. Namun, pandangan ini terbantahkan oleh meningkatnya konflik sosial sebagai bias persoalan politik yang terjadi sejak tahun 1980-an. 

Bremmer rupanya gagal memprediksi, bahwa  di tahun 1993, dua tahun setelah perang dingin berakhir terdapat setidaknya dua puluh dua peperangan masih berlangsung di berbagai penjuru dunia. 

Tidak menutup kemungkinan, situasi itu akan terjadi di Indonesia. Kita tentu tak ingin sesama warga bangsa harus menelan pil pahit perpecahan. Karena itu, kita tak boleh diam di tengah kekacauan ini. 

Kesadaran koletif sebagai sebuah bangsa mesti dihidupkan kembali. Ikatan persaudaraan harus dipertebalkan kembali. Jika tidak, pengalaman traumatis masa lampau akan kembali terulang.*

APA KOMENTAR ANDA?

Nama

Bertolak Lebih Dalam,1,Buka Mata,12,Harmoni NTT,1,Instruksi Genetika,1,Kaca Mata,9,Kisah Gubuk Juang,1,Lirikan Mata,10,Lou Salome,1,Marsel Minggu,1,Mata Hati,5,Money Politics,1,Nasional,1,Nietzsche,1,Perlawanan Kaum Buruh,1,Pesan Duka Untuk Kita,1,Pilgub NTT,1,Pilkada NTT,2,
ltr
item
Mata Leso: Politik Adu Domba dan Ancaman Disintegrasi Sosial
Politik Adu Domba dan Ancaman Disintegrasi Sosial
Politik adu domba punya efek yang luar biasa. Selain menggusur percakapan politik rasional di ruang publik, tetapi juga mempertebal disintegrasi sosial. (Andy Tandang - ist)
https://3.bp.blogspot.com/-jo9I3YkNLiE/W51Y1VERrpI/AAAAAAAAAK4/Noc1Rz3rIVMSX9HclcnDLYm2ywxV5GsNwCLcBGAs/s640/Opini%2BAndyka.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-jo9I3YkNLiE/W51Y1VERrpI/AAAAAAAAAK4/Noc1Rz3rIVMSX9HclcnDLYm2ywxV5GsNwCLcBGAs/s72-c/Opini%2BAndyka.jpg
Mata Leso
http://www.mataleso.com/2018/09/politik-adu-domba-dan-ancaman.html
http://www.mataleso.com/
http://www.mataleso.com/
http://www.mataleso.com/2018/09/politik-adu-domba-dan-ancaman.html
true
3505765550315793126
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy