Kaum Muda Menuju Parlemen, Tak Sekedar Menebar Pesona!

Pertanyaannya adalah, mampukah spirit perjuangan politik kaum muda era pra kemerdekaan itu menjadi roh penggerak keterlibatan politik kaum muda saat ini? (Foto: Andy Tandang)

MATA-MATA, mataleso.com - Beberapa waktu lalu, saya baru menulis soal keterlibatan artis tanah air di pentas pileg. Judulnya sedikit lebay; Gincu Artis di Pentas Caleg, Bukan Salah Parpol. Tulisan itu hanya sebuah catatan ringan tanpa amunisi teoritis yang memadai, sekedar mengomentari sorotan publik soal posisi partai politik yang mulai mengalami pergeseran orientasi.

Kaum Muda Menuju Parlemen, Tak Sekedar Menebar Pesona
Pertanyaannya adalah, mampukah spirit perjuangan politik kaum muda era pra kemerdekaan itu menjadi roh penggerak keterlibatan politik kaum muda saat ini? 
Saya tak ingin terlarut dalam kehebohan para artis yang diusung parpol-parpol papan atas itu. Ada peristiwa menarik yang sebetulnya tak kalah heboh dari pemasangan waring Kali Item dan bendera bertiang bambu jelang Asian Games; yakni keterlibatan kaum muda di pentas caleg.

Sebagai orang muda yang lagi berjuang mengoker asmara dengan seseorang di seberang lautan, ada harapan yang disisipkan di sana, bahwa kehadiran kaum muda tak hanya sekedar menebar pesona di dunia maya, minus sokongan idologis. 

Betul bahwa kekuasaaan itu memesona. Sama seperti cinta yang selalu menggairahkan, rela mengorbankan harga diri meski ditolak berkali-kali. Tetapi, sanggupkah pesona kekuasaan itu didandan dalam peradaban politik yang memesona pula?

Menebak spirit di balik obsesi politik kaum muda untuk menembus tembok parlemen, tentu tak mudah. Apakah mereka hadir membopong serta energi keberpihakan ataukah semata-mata demi merebut kekuasaan, hanya Tuhan yang tahu.

Saya coba meminggirkan pertanyaan psimistik semacam itu. Mari kita sejenak berguru pada sejarah. 

Historsitas politik Indonesia menunjukkan bahwa keterlibatan politik kaum muda bukan hal yang baru. Sejarah pra kemerdekaan menjadi salah satu acuan. Saat itu, narasi politik yang diucapkan ke ruang publik adalah kontra imperialisme. Kemurnian perjuangan politik dihembuskan demi melawan dominasi Hindia Belanda.

Mengutip Deliar Noer, ada tiga filosofi penting sekaligus tujuan yang menjadi arah perjuangan kaum muda era pra kemerdekaan.

Pertama, menyadarkan kaum muda dan mahasiswa agar mereka mengusahakan kemerdekaan Indonesia. Kesadaran ini perlu, sekaligus memberi sinyal bahwa merekalah yang akan menjadi elite-elite bangsa apabila Indonesia merdeka. 

Kedua, menghilangkan kesan bahwa kemajuan sosial ekonomi rakyat Indonesia bukanlah atas kebaikan pemerintah kolonial Belanda. Ketiga, menciptakan suatu ideologi gerakan yang kuat dan bebas dari pembatasan-pembatasan yang bersifat sektarian (Islam dan komunisme).
Kita tidak menghendaki bahwa kehadiran kaum muda di pentas legislatif hanya untuk meramaikan demokrasi. Semacam para penari latar yang hanya kelihatan pinggulnya di balik cahaya lampu yang remang-remang. 
Kita menangkap ada dalil politik yang jelas terucap di sana. Idealisme menjadi basis perjuangan dalam mewujudakan apa yang disebut Indonesia merdeka. Hal itu kembali dipertegas John Ingleson (1982) dalam bukunya; Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasionalis Indonesia Tahun 1927-1934.

Ingleson membeberkan beberapa poin penting yang menjadi rujukan idealisme kaum muda dalam perpolitikan Indonesia pra kemerdekaan.

Pertama, kesatuan nasional. Kamum muda sadar bahwa mengolah perbedaan menjadi pilihan yang ditempuh untuk membentuk gerakan kolektif melawan kolonialisme. Semangat kesatuan nasional ditiupkan untuk mengencangkan gairah perlawanan. 

Kedua, solidaritas. Yang diproklamirkan ke publik adalah kesadaran nasionalis bahwa terdapat perbedaan yang jelas antara penjajah dengan jajahannya. Konflik dengan penjajah dipertajam, solidaritas pun mengakar di sana. 

Ketiga, non-kooperasi. Hal ini mengandaikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari Belanda atau kaum penjajah, tetapi berkat kerja keras dan kekuatan bangsa Indonesia sendiri. Mereka hendak menunjukkan bahwa mental asli oarang Indonesia bukan pengemis yang menunggu belas kasihan. 

Ingleson mencatat, idealisme itu menjelma dalam prinsip-prinsip moralitas dan etika politik yang dipakai dalam mengorganisir kekuatan rakyat untuk menghadapi kolonialisme. Mereka tumbuh dalam semangat perlawanan akan situasi ketertindasan, yang ditopang oleh integritas moral yang kuat. Mereka hadir sebagai agen perubahan sosial sekaligus jawaban atas politik imperialis kala itu.

Selain memiliki agenda politik yang progresif, mereka memiliki reputasi politik yang dapat dipercaya. Karena itu mereka memengaruhi dan menentukan posisi dalam institusi birokrasi, ekonomi, kekuasaan, yang menentukan arah bangsa diletakkan. Hal inilah yang menegaskan bahwa perjalanan politik Indonesia tidak pernah terlepas dari kontribusi kaum muda.
Kaum muda era pra kemerdekaan sangat akrab dengan perdebatan politik. Rumusan perjuangan ditempuh melalui perkelahian gagasan. Ada konsep yang diduelkan di sana. 
Pertanyaannya adalah, mampukah spirit perjuangan politik kaum muda era pra kemerdekaan itu menjadi roh penggerak keterlibatan politik kaum muda saat ini?

Dalam sebuah perbincangan ringan di pojok warung, seorang sahabat mengeluh soal minimnya perdebatan gagasan yang sebetulnya menjadi ciri khas kaum muda saat ini. Ketika diungkit soal motivasi di balik panggilan politiknya menjadi caleg, argumen yang disodorkan mengambang.

Tak ada ide politik yang diucapkan. Semua bermain dalam strategi mengelola psikologi massa. Pendidikan politik tidak terbaca di sana. Apalgi bicara soal idealisme dan integritas, jauh dari sentilan wacana yang beredar. Saya lalu mengajaknya untuk sesering mungkin menikmati kopi Manggarai, sekedar menurunkan bobot gelisah.

Kita merindukan ada keseriusan argumen politik yang dirumuskan dalam ruang percakapan publik. Argumen politik itu menjadi representasi problem sosial yang dialami masyarakat dan nantinya akan diperjuangkan di parlemen, ketika mereka terpilih.

Kita tidak menghendaki bahwa kehadiran kaum muda di pentas legislatif hanya untuk meramaikan demokrasi. Semacam para penari latar yang hanya kelihatan pinggulnya di balik cahaya lampu yang remang-remang.

Kaum muda harus menjadi pembeda yang mampu mengembalikan peradaban politik. Meskipun Tocqueville psimmis bahwa tidak ada partai yang punya prinsip, tetapi kaum muda harus yakin bahwa masih banyak manusia yang punya prinsip di sana.

Mereka tidak sekedar menjaring like di beranda facebook lalu meminggirkan ketajaman gagasan yang merangsang diskursus publik. Setidaknya, argumen Woodrow Wilson tentang seorang politisi adalah manusia yang hanya duduk dan berpikir, terbanyak hanya duduk; bisa dipatahkan.

Kaum muda era pra kemerdekaan sangat akrab dengan perdebatan politik. Rumusan perjuangan ditempuh melalui perkelahian gagasan. Ada konsep yang diduelkan di sana. Mereka mampu membahsakan fakta ketertindasan dan dominasi imperealis dalam percakapan politik yang berbobot. Idealisme perjuangan tumbuh di sana.

Harapan yang sama kita alamatkan pada kaum muda yang hendak bertarung di pentas caleg. Barangkali, gaya perjuangan mereka berbeda dengan kaum muda era pra kemerdekaan. Tetapi, spirit keberpihakan dengan ditopang idealisme politik yang telah diwariskan, bisa menjadi kekuatan politik kaum muda saat ini. Hanya itu yang bisa diupayakan jika kita menghendaki perubahan politik ke arah yang lebih baik.*

Catatan Ringan: Andy Tandang*

APA KOMENTAR ANDA?

Nama

Bertolak Lebih Dalam,1,Buka Mata,12,Harmoni NTT,1,Instruksi Genetika,1,Kaca Mata,9,Kisah Gubuk Juang,1,Lirikan Mata,10,Lou Salome,1,Marsel Minggu,1,Mata Hati,5,Money Politics,1,Nasional,1,Nietzsche,1,Perlawanan Kaum Buruh,1,Pesan Duka Untuk Kita,1,Pilgub NTT,1,Pilkada NTT,2,
ltr
item
Mata Leso: Kaum Muda Menuju Parlemen, Tak Sekedar Menebar Pesona!
Kaum Muda Menuju Parlemen, Tak Sekedar Menebar Pesona!
Pertanyaannya adalah, mampukah spirit perjuangan politik kaum muda era pra kemerdekaan itu menjadi roh penggerak keterlibatan politik kaum muda saat ini? (Foto: Andy Tandang)
https://2.bp.blogspot.com/-Cgg5ieRkIlE/W1hMJRHU75I/AAAAAAAAAJ8/gXymgkKY7rYFZiGDUnQbiKK3S9Jhe7wBgCLcBGAs/s640/Andy.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-Cgg5ieRkIlE/W1hMJRHU75I/AAAAAAAAAJ8/gXymgkKY7rYFZiGDUnQbiKK3S9Jhe7wBgCLcBGAs/s72-c/Andy.jpg
Mata Leso
http://www.mataleso.com/2018/07/kaum-muda-menuju-parlemen-tak-sekedar-menebar-pesona.html
http://www.mataleso.com/
http://www.mataleso.com/
http://www.mataleso.com/2018/07/kaum-muda-menuju-parlemen-tak-sekedar-menebar-pesona.html
true
3505765550315793126
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy