Tinggal Diuji, Isi Kepala Siapa yang Paling Bepengaruh di Senayan

Persis ketika dramawan Irlandia Sean O’Casey pernah mengeluh; "Saya tidak tahu mengapa, tapi mereka tampaknya memiliki kecenderungan memecah belah kita, memisahkan kita satu sama lain." (Foto: Ilustrasi - ist)

MATA-MATA, mataleso.comKopi masih separuh gelas. Belum sempat dihabiskan. Saya baru saja menyelesaikan beberapa revisi tugas kampus. Sebetulnya, gairah menulis agak melemah akhir-akhir ini. Apalagi menulis soal konstelasi Pilkada NTT yang kemiringan wacananya hampir 180 derajat.
Tinggal Diuji, Mereka Sudah Bikin Apa di Senayan

Banyak sampah informasi yang bertebaran di kampung maya, sekedar mengeco publik dengan opini  joak dan murahan. Pengagum, kelompok fanatisme politik begitu nafsu melumat setiap kabar yang beredar itu. Tak ada 'penundaan' ala Derrida di sana. Yang penting untuk jagoanku, se-hoaks apapun kabarnya, akan kucicipi dengan mata tertutup.

Di sana tak ada lagi piranti verikasi yang mendeteksi setiap kebenaran dan kepalsuan yang mampir di ruang publik. Semuanya dilenyapkan, baik karena tukar tambah kepentingan politik, maupun gesekan lembar merah di bawah meja. Siapa yang mau lapar? Apalagi liat dollar, kaka dong pung mata mulai melotot. hehe..

Apakah memang orang sedang terjebak dalam perangkap kepalsuan? Entahlah. Boleh jadi, bagi gerembolan 'muka belakang' ini, kebenaran tak lebih dari ilusi tentang sesuatu yang telah dikelupaskan dari diri sejatinya.

Pada titik ini, Einstein kembali mengingatkan, kesadaran akan betapa kecilnya pengaruh penalaran dan kemauan baik yang tulus bisa mempengaruhi peristiwa dalam dunia politik menjadi spirit yang selalu dihidupkan.
Banyak sampah informasi yang bertebaran di kampung maya, sekedar mengeco publik dengan opini  joak dan murahan. Pengagum, kelompok fanatisme politik begitu nafsu melumat setiap kabar yang beredar itu.
Kembali ke notebook dulu...

Ini sebenarnya hanya pengantar awal menuju pergumulan politik NTT berbasis nalar dan akal sehat warga. Setidaknya meminimalisir persepsi politik gaya Oscar Ameringer, yang menyeret politik sebagai seni halus mendapatkan suara dari orang miskin dan dana kampanye dari orang kaya.

Kemarin, selepas kuliah, masih asyek nongkrong di cafe kampus sambil lirik nona-nona kedokteran gigi, seorang senior tiba-tiba menelpon. Tanpa basi-basi, langsung ke poin arahan. "Dek, malam kita ngopi dulu, di tempat biasa." telfon langsung dimatikan.

Tepat jam 7 malam waktu Indonesia Kita, saya bergegas ke TKP. Tak jauh dari kontrakan lama saya. Rupanya senior besar su pesan kopi dua gelas. Katanya kopi asli dari Sumatera. Enak macam kopi Bajawa. Sambil tarik pelan-pelan bako filter yang sisa dua batang di saku celana, kami memulai bincang.

"Topiknya apa bang?" saya coba tanya. "Pilkada NTT," bapa tua to the point golo.

Ia bukan orang NTT. Ia penghuni pulau seberang. Soal peta politik, jao angkat topi, dia paling jago. Saya lebih banyak mendengar. Beberapa teori politik sesekali saya sisipkan di tengah perbincangan, sekedar menyeimbangkan pembicaraan. hehe 

"Bagaimana kalau seandainya yang bertarung serius hingga finish hanya ada dua pasangan calon?" bliau coba lempar bola. 

Saya belum memahami arah pertanyaannya. Siapa yang disikat, siapa pula yang dibela. Bako kembali dibakar untuk batang yang kedua. Kopi masih setengah panas. "Tolong perjelas pertanyaan bang," saya coba balik mempertegas.

"Gini loh dik, kalau dari 4 paslon yang bertarung di NTT, duanya hanya 'maen gila', duanya lagi serius bertarung, bagaimana kau menyiapkan dalil yang tepat di ruang publik, agar nalar wargamu tak disapu kekuatan rupiah? 

Ini pertanyaan politis. Mana mungkin keempat paslon yang telah direstui KPUD mau 'maen gila' untuk sebuah kontestasi yang telah menghabiskan dana cukup banyak. Kalau dia punya modal besar, plus bekingan pemilik modal kuat, boleh-boleh saja. Tapi kalau hanya modal bisnis jual singkong bakar, mo begena?
Kira-kira sama seperti anggota dewan versus anggota dewan. Lacak kualitas mereka, apa yang pernah mereka buat di rumah rakyat, atau isi kepala siapa yang paling berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah ketika mereka menjabat. 
Saya coba berpikir dua kali. Yah, politik itu seni, selalu dinamis. Apapun bisa terjadi. Saya jadi teringat dengan narasi imperial devide et impera, sebuah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan. 

Belanda dulu menggunakan strategi ini untuk membelah kekuatan lawan, sebelum isi perut pertiwi di sapu bersih. Persis ketika dramawan Irlandia Sean O’Casey pernah mengeluh; "Saya tidak tahu mengapa, tapi mereka tampaknya memiliki kecenderungan memecah belah kita, memisahkan kita satu sama lain."

Dia ambil alih pembicaraan. Otak saya tak cukup kuat untuk berimajinasi, apalagi pemetaan politik dengan logika grand narasi yang dipaparkan.

"Begini, saya mau jelaskan ke kau. Kalau yang tersisa di final, adalah petani versus petani, kau tinggal cek kualitas mereka, apa yang sudah mereka buat di sawah, dan bila perlu siapa yang pernah menjadi petani teladan. Melacak jejak mereka sangat membantumu untuk memilih bibit padi yang unggul, agar berasnya juga berkualitas."

Bapa tua mulai pake analogi petani versus petani. Kira-kira sama seperti anggota dewan versus anggota dewan. Lacak kualitas mereka, apa yang pernah mereka buat di rumah rakyat, atau isi kepala siapa yang paling berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah ketika mereka menjabat. 

Di sini pula kita bisa melacak kebenaran tesis Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson, "seorang politisi adalah manusia yang hanya duduk dan berpikir, terbanyak hanya duduk." Ai do ata ngo toko bon anggota dite lau Senayan. Do tombo, kosong ici. Kira-kira begitu.

Boleh jadi, ini pertimbangan yang cukup masuk akal bagi mereka yang masih menghormati akal sehat. Toh kalaupun sudah digadai, waktu dan kesempatan untuk sebuah pemurnian nalar masih dibuka, apalagi memasuki masa paskah. hehe..

Kita bersambung dulu.. Kaka senior dipanggil pulang sama bininya..

#MataLeso

APA KOMENTAR ANDA?

BLOGGER: 2
Loading...
Nama

Bertolak Lebih Dalam,1,Buka Mata,12,Harmoni NTT,1,Instruksi Genetika,1,Kaca Mata,9,Kisah Gubuk Juang,1,Lirikan Mata,10,Lou Salome,1,Marsel Minggu,1,Mata Hati,5,Money Politics,1,Nasional,1,Nietzsche,1,Perlawanan Kaum Buruh,1,Pesan Duka Untuk Kita,1,Pilgub NTT,1,Pilkada NTT,2,
ltr
item
Mata Leso: Tinggal Diuji, Isi Kepala Siapa yang Paling Bepengaruh di Senayan
Tinggal Diuji, Isi Kepala Siapa yang Paling Bepengaruh di Senayan
Persis ketika dramawan Irlandia Sean O’Casey pernah mengeluh; "Saya tidak tahu mengapa, tapi mereka tampaknya memiliki kecenderungan memecah belah kita, memisahkan kita satu sama lain." (Foto: Ilustrasi - ist)
https://1.bp.blogspot.com/-RyP50DohwCc/WrD3jFvYRcI/AAAAAAAAAEg/es9KHJBUePQ4kpNnL2iWmPQja_pSPdqbACLcBGAs/s640/Tinggal%2BDiuji%252C%2BMereka%2BSudah%2BBikin%2BApa%2Bdi%2BSenayan.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-RyP50DohwCc/WrD3jFvYRcI/AAAAAAAAAEg/es9KHJBUePQ4kpNnL2iWmPQja_pSPdqbACLcBGAs/s72-c/Tinggal%2BDiuji%252C%2BMereka%2BSudah%2BBikin%2BApa%2Bdi%2BSenayan.jpg
Mata Leso
http://www.mataleso.com/2018/03/tinggal-diuji-mereka-berdua-sudah-bikin-apa-di-senayan.html
http://www.mataleso.com/
http://www.mataleso.com/
http://www.mataleso.com/2018/03/tinggal-diuji-mereka-berdua-sudah-bikin-apa-di-senayan.html
true
3505765550315793126
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy